Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Dialog GUSDUR dan Santri

0
21.52.00


Santri : "Ini semua gara-gara Nabi Adam, ya Gus!"
Gus Dur : "Loh, kok tiba-tiba menyalahkan Nabi Adam, kenapa Kang."
Santri : "Lah iya, Gus. Gara-gara Nabi Adam dulu makan buah terlarang, kita sekarang merana. Kalau Nabi Adam dulu enggak tergoda Iblis kan kita anak cucunya ini tetap di surga. Enggak kayak sekarang, sudah tinggal di bumi, eh ditakdirkan hidup di Negara terkorup, sudah begitu jadi orang miskin pula. Emang seenak apa sih rasanya buah itu, Gus?"
Gus Dur : "Ya tidak tahulah, saya kan juga belum pernah nyicip. Tapi ini sih bukan soal rasa. Ini soal khasiatnya."
Santri : "Kayak obat kuat aja pake khasiat segala. Emang Iblis bilang khasiatnya apa sih, Gus? Kok Nabi Adam bisa sampai tergoda?"
Gus Dur : "Iblis bilang, kalau makan buah itu katanya bisa menjadikan Nabi Adam abadi."
Santri : "Anti-aging gitu, Gus?"
Gus Dur : "Iya. Pokoknya kekal."
Santri : "Terus Nabi Adam percaya, Gus? Sayang, iblis kok dipercaya."
Gus Dur : "Lho, Iblis itu kan seniornya Nabi Adam."
Santri : "Maksudnya senior apa, Gus?"
Gusdur : "Iblis kan lebih dulu tinggal di surga dari pada Nabi Adam dan Siti Hawa."
Santri : "Iblis tinggal di surga? Masak sih, Gus?"
Gus Dur : "Iblis itu dulunya juga penghuni surga, terus di usir, lantas untuk menggoda Nabi Adam, iblis menyelundup naik ke surga lagi dengan berserupa ular dan mengelabui merak sang burung surga, jadi iblis bisa membisik dan menggoda Nabi Adam."
Santri : "Oh iya, ya. Tapi, walau pun Iblis yang bisikin, tetap saja Nabi Adam yang salah. Gara–garanya, aku jadi miskin kayak gini."
Gus Dur : "Kamu salah lagi, Kang. Manusia itu tidak diciptakan untuk menjadi penduduk surga. Baca surat Al-Baqarah : 30. Sejak awal sebelum Nabi Adam lahir… eh, sebelum Nabi Adam diciptakan, Tuhan sudah berfirman ke para malaikat kalo Dia mau menciptakan manusia yang menjadi khalifah (wakil Tuhan) di bumi."
Santri : "Lah, tapi kan Nabi Adam dan Siti Hawa tinggal di surga?"
Gus Dur : "Iya, sempat, tapi itu cuma transit. Makan buah terlarang atau tidak, cepat atau lambat, Nabi Adam pasti juga akan diturunkan ke bumi untuk menjalankan tugas dari-Nya, yaitu memakmurkan bumi. Di surga itu masa persiapan, penggemblengan. Di sana Tuhan mengajari Nabi Adam bahasa, kasih tahu semua nama benda. (lihat Al- Baqarah : 31).
Santri : "Jadi di surga itu cuma sekolah gitu, Gus?"
Gus Dur : "Kurang lebihnya seperti itu. Waktu di surga, Nabi Adam justru belum jadi khalifah. Jadi khalifah itu baru setelah beliau turun ke bumi."
Santri : "Aneh."
Gus Dur : "Kok aneh? Apanya yang aneh?"
Santri : "Ya aneh, menyandang tugas wakil Tuhan kok setelah Nabi Adam gagal, setelah tidak lulus ujian, termakan godaan Iblis? Pendosa kok jadi wakil Tuhan."
Gus Dur : "Lho, justru itu intinya. Kemuliaan manusia itu tidak diukur dari apakah dia bersih dari kesalahan atau tidak. Yang penting itu bukan melakukan kesalahan atau tidak melakukannya. Tapi bagaimana bereaksi terhadap kesalahan yang kita lakukan. Manusia itu pasti pernah keliru dan salah, Tuhan tahu itu. Tapi meski demikian nyatanya Allah memilih Nabi Adam, bukan malaikat."
Santri : "Jadi, tidak apa-apa kita bikin kesalahan, gitu ya, Gus?"
Gus Dur : "Ya tidak seperti itu juga. Kita tidak bisa minta orang untuk tidak melakukan kesalahan. Kita cuma bisa minta mereka untuk berusaha tidak melakukan kesalahan. Namanya usaha, kadang berhasil, kadang enggak."
Santri : "Lalu Nabi Adam berhasil atau tidak, Gus?"
Gus Dur : "Dua-duanya."
Santri : "Kok dua-duanya?"
Gus Dur : "Nabi Adam dan Siti Hawa melanggar aturan, itu artinya gagal. Tapi mereka berdua kemudian menyesal dan minta ampun. Penyesalan dan mau mengakui kesalahan, serta menerima konsekuensinya (dilempar dari surga), adalah keberhasilan."
Santri : "Ya kalo cuma gitu semua orang bisa. Sesal kemudian tidak berguna, Gus."
Gus Dur : "Siapa bilang? Tentu saja berguna dong. Karena menyesal, Nabi Adam dan Siti Hawa dapat pertobatan dari Tuhan dan dijadikan khalifah (lihat Al-Baqarah: 37). Bandingkan dengan Iblis, meski sama-sama diusir dari surga, tapi karena tidak tobat, dia terkutuk sampe hari kiamat."
Santri : "Ooh…"
Gus Dur : "Jadi intinya begitulah. Melakukan kesalahan itu manusiawi. Yang tidak manusiawi, ya yang iblisi itu kalau sudah salah tapi tidak mau mengakui kesalahannya justru malah merasa bener sendiri, sehingga menjadi sombong."
Santri : "Jadi kesalahan terbesar Iblis itu apa, Gus? Tidak mengakui Tuhan?"
Gus Dur : "Iblis bukan atheis, dia justru monotheis. Percaya Tuhan yang satu."
Santri : "Masa sih, Gus?"
Gus Dur : "Lho, kan dia pernah ketemu Tuhan, pernah dialog segala kok."
Santri : "Terus, kesalahan terbesar dia apa?"
Gus Dur : "Sombong, menyepelekan orang lain dan memonopoli kebenaran."
Santri : "Wah, persis cucunya Nabi Adam juga tuh."
Gus Dur : "Siapa? Ente?"
Santri : "Bukan. Cucu Nabi Adam yang lain, Gus. Mereka mengaku yang paling bener, paling sunnah, paling ahli surga. Kalo ada orang lain berbeda pendapat akan mereka serang. Mereka tuduh kafir, ahli bid'ah, ahli neraka. Orang lain disepelekan. Mereka mau orang lain menghormati mereka, tapi mereka tidak mau menghormati orang lain. Kalau sudah marah nih, Gus. Orang-orang ditonjokin, barang-barang orang lain dirusak, mencuri kitab kitab para ulama. Setelah itu mereka bilang kalau mereka pejuang kebenaran. Bahkan ada yang sampe ngebom segala loh."
Gus Dur : "Wah, persis Iblis tuh."
Santri : "Tapi mereka siap mati, Gus. Karena kalo mereka mati nanti masuk surga katanya."
Gus Dur : "Siap mati, tapi tidak siap hidup."
Santri : "Bedanya apa, Gus?"
Gus Dur : "Orang yang tidak siap hidup itu berarti tidak siap menjalankan agama."
Santri : "Lho, kok begitu?"
Gus Dur : "Nabi Adam dikasih agama oleh Tuhan kan waktu diturunkan ke bumi (lihat Al- Baqarah: 37). Bukan waktu di surga."
Santri : "Jadi, artinya, agama itu untuk bekal hidup, bukan bekal mati?"
Gus Dur : "Pinter kamu, Kang!"
Santri : "Santrinya siapa dulu dong? Gus Dur."


Sumber : Perpustakaan Universitas Menyan Indonesia (UMI) Continue reading →

Makna Lagu LIR ILIR oleh Kanjeng Sunan Kali Jogo

0
10.42.00

 

Lirik Lagu Lir-ilir 

Lir-ilir, lir-ilir
Tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulane,
Mumpung jembar kalangane
Yo surako… surak iyo…


Arti Lirik Lagu Lir-ilir

Bangunlah, bangunlah
Tanaman sudah bersemi
Demikian menghijau bagaikan pengantin baru
Anak gembala, anak gembala panjatlah (pohon) belimbing itu
Biar licin dan susah tetaplah kau panjat
untuk membasuh pakaianmu
Pakaianmu, pakaianmu terkoyak-koyak di bagian samping
Jahitlah, benahilah untuk menghadap nanti sore
Mumpung bulan bersinar terang,
Mumpung banyak waktu luang
Ayo bersoraklah dengan sorakan iya

Makna yang terkandung lagu Lir-ilir

Sebagai umat Islam kita diminta bangun. Bangun dari keterpurukan, bangun dari sifat malas untuk lebih mempertebal keimanan yang telah ditanamkan oleh Alloh dalam diri kita yang dalam ini dilambangkan dengan tanaman yang mulai bersemi dan demikian menghijau. 
Terserah kepada kita, mau tetap tidur dan membiarkan tanaman iman kita mati atau bangun dan berjuang untuk menumbuhkan tanaman tersebut hingga besar dan mendapatkan kebahagiaan seperti bahagianya pengantin baru.
Disini disebut anak gembala karena oleh Alloh, kita telah diberikan sesuatu untuk digembalakan yaitu HATI. Bisakah kita menggembalakan hati kita dari dorongan hawa nafsu yang demikian kuatnya? Si anak gembala diminta memanjat pohon belimbing yang notabene buah belimbing bergerigi lima buah. Buah belimbing disini menggambarkan lima rukun Islam. Jadi meskipun licin, meskipun susah kita harus tetap memanjat pohon belimbing tersebut dalam arti sekuat tenaga kita tetap berusaha menjalankan Rukun Islam apapun halangan dan resikonya.
Lalu apa gunanya?
Gunanya adalah untuk mencuci pakaian kita yaitu pakaian taqwa, Pakaian yang dimaksud adalah pakaian taqwa kita. Sebagai manusia biasa pasti terkoyak dan berlubang di sana sini, untuk itu kita diminta untuk selalu memperbaiki dan membenahinya agar kelak kita sudah siap ketika dipanggil menghadap ke hadirat Alloh SWT.
Kita diharapkan melakukan hal-hal diatas ketika kita masih sehat (dilambangkan dengan terangnya bulan) dan masih mempunyai banyak waktu luang dan jika ada yang mengingatkan maka jawablah dengan iya.


Continue reading →

SISI LAIN DARI KOPI

0
23.19.00



Kopi adalah salah satu jenis tumbuhan atau buah yang menjadi bahan pokok minuman yang bernama KOPI. Kopi bukanlah sesuatu yang asing dalam kehidupan kita, mulai dari anak-anak sampai orang tua pun sudah sangat familiar dengan minuman yang satu ini, bahkan di Indonesia kopi bisa dibilang sudah menjadi minuman wajib yang biasa disuguhkan dipagi hari sebelum memulai aktifitas atau pada malam hari saat melepas lelah setelah seharian bergelut dengan rutinitas yang melelahkan.
Apalagi bagi para pecandu rokok, maka bisa dipastikan hidup mereka tidak jauh dari minuman yang satu ini. Karena ternyata setelah diteliti kopi itu mempunyai kandungan yang bisa menetralisir racun dari nikotin yang ada pada rokok. Oleh sebab itulah menikmati secangkir kopi itu terasa tidak lengkap jika tidak diiringi dengan sebatang rokok sebagai jodohnya. Entah sejak kapan tradisi ini bermula tapi yang jelas mereka para perokok bisa dipastikan adalah seorang penikmat kopi, tapi mereka pecandu kopi belum tentu adalah seorang perokok. Karena banyak mereka yang tidak bisa lepas dari minum kopi setiap hari, tapi mereka tidak merokok.
Berbicara lebuh jauh tentang KOPI, yang terbersit dalam otak saya adalah bagaimana kopi itu bisa menjadi ngetrend seperti sekarang ini. KOPI itu tetaplah menjadi tanaman biasa kalau saja dulu tidak ada yang menemukan bahwa ternyata kopi bisa diolah menjadi minuman yang nikmat bagi para pecinta kopi. Tapi tidak begitu saja setelah melalui proses pembuatan yang panjang hingga berakhir menjadi bubuk kopi maka kita sudah bisa menikmatinya. Kopi bukanlah sebuah minuman yang nikmat jika tidak diseduh dengan air panas dan tidak dicampur dengan gula. Oleh sebab itu untuk memperoleh kenikmatan yang pas sesuai selera kita maka ketiga unsur tadi harus menjadi satu yang disatukan dalam sebuah wadah yaitu cangkir atau gelas. Dan sebelum diminum kopi harus terlebih dahulu diaduk dengan bantuan sendok. Karena jika tidak diaduk maka akan terasa pahit karena basic rasa dari kopi adalah pahit.
Dalam penyajiannya di warung kopi atau di “Angkringan” (bahasa lain dari warung lesehan di pinggir jalan : red) secangkir kopi selalu disertai dengan piring kecil sebagai alas cangkir yang sebenarnya hanya berfungsi sebagai pelengkap saja. Tapi selain sebagai alas fungsi lain dari piring kecil atau sering disebut “lepek” itu adalah untuk menuangkan kopi yang tersaji dalam keadaan panas tersebut agar supaya cepat dingin dan bisa dinikmati tanpa harus meniup dan meminum sedikit demi sedikit. Meskipun begitu tapi ternyata tidak semua daerah punya cara yang sama dalam menikmati kopi. Karena ternyata di tempat lain hal seperti itu bahkan terasa asing dan mereka heran ketika melihat ada orang minum kopi tapi dituangkan ke piring kecil terlebih dahulu. Yah...seperti kata pepatah “Lain Ladang Lain Belalang, Lain Lubuk Lain Ikannya”. Seperti apapun caranya yang penting kepuasan akhir tetaplah sama.
Dari pembahasan yang bertele-tele dan nggak penting banget tadi ternyata ada sebuah filosofi yang bisa saya ambil bahwa hal yang sepele seperti KOPI yang mungkin kita tidak pernah berfikir untuk menghabiskan energi hanya untuk merenungkan maknanya itu. Untuk bisa menikmati secangkir kopi kita harus melewati beberapa proses yang memang harus kita lalui. Dan kopi bukanlah sesuatu yang istimewa jika tidak dipadukan dengan beberapa unsur pelengkap. Seperti itulah halnya hidup ini, sekecil apapun tujuan kita maka mau tak mau kita harus melewati berbagai proses agar kita bisa mencapai tujuan kita dengan perasaan puas. Dan dalam proses tersebut kita tidak akan pernah bisa melaluinya sendirian karena kita sudah ditakdirkan oleh Tuhan untuk menjadi makhluk sosial yang tetap akan selalu membutuhkan bantuan dari orang-orang ada di sekitar kita, seperti kopi membutuhkan air panas, gula dan wadah agar kita bisa menikmatinya dengan enak.
Dan pernahkah kita berpikiran seperti itu? Rasanya lebih banyak orang yang lebih bangga dengan dirinya sendiri seolah-olah apa yang telah didapatkannya dan proses untuk mencapai tujuan tersebut adalah murni hasil kerja kerasnya sendiri tanpa bantuan dari orang lain. Bahkan yang lebih ironis mereka seolah-olah mengesampingkan peran Tuhan dalam hidupnya dan hanya mau berkeluh kesah kepada Tuhan hanya ketika dia gagal memperoleh tujuannya tersebut. Tak jarang mereka menyalahkan Tuhan ketika mereka sedang terpuruk dan mempertanyakan keadilan Tuhan, padahal mereka melupakan-NYA ketika sedang terbuai oleh kesuksesan sesaat.
Jika sudah seperti itu apa artinya Tuhan dalam kehidupan ini? Apakah Tuhan itu hanya sebagai pelengkap untuk mengisi kolom agama pada KTP saja?Apakah kita hanya membutuhkan Tuhan saat kita sedang mengalami cobaan hidup saja? Lalu sebenarnya yang butuh itu siapa? Kita atau Tuhan?
Yeah....dan realitanya memang seperti itu, kita hanya berdo’a memohon-mohon kepada-NYA disaat kita sedang merasa kesusahan padahal sesungguhnya Tuhan itu tidak membutuhkan kita, apakah kita baik atau tidak, apakah kita benar atau salah. Tuhan hanya memberikan kompensasi kepada hambanya yang mau menjalankan semua perintahnya dan menjauhi semua larangannya. Karena sesungguhnya kita lah yang membutuhkan Tuhan untuk tempat bersujud, memohon dan meminta dengan gratis tanpa syarat, itupun jika kita mau untuk berpikir jernih.
Oleh karena itu jangan menyalahkan proses yang kita jalani karena kebahagiaan hidup itu adalah proses bukan tujuan akhir. Dan nikmatilah semua proses itu dengan biasa-biasa saja tanpa melupakan peranan Tuhan dalam setiap proses yang kita jalani.
Continue reading →

Apa Bagusnya Musik Cadas?

0
20.14.00


“Apa sih bagusnya musik cadas? Seninya di mananya sih? Teriak-teriak parau gitu gimana caranya ngerti maksudnya?” Inilah kira-kira pertanyaan yang muncul jika kamu non-pecinta musik cadas disodorin musik cadas. Ya genre yang satu ini memang terdengar semrawut alias berantakan, asal keras, gak jelas dan nyakitin kuping. Musik-musik beraliran metal, hardcore, rock, punk ini memang agak susah diterima masyarakat luas karena tingkat kebisingannya yang luar biasa. Tampilan pecintanya pun terkesan garang dan seram seperti preman-preman terminal yang penuh tato dilengkapi kostum robek-robeknya. So, apa bagusnya.

Lagu cadas, bilanglah metal, jika kita lihat dari lirik-lirik dan ekspresi pembawaannya yang biasanya screaming alias teriak-teriak, lagu metal memiliki tema yang bisa kita generalisasikan sebagai bentuk kemarahan, iri, cemburu, kecewa, bete, bosan, merasa tertindas dan terlindas. Hei, ini tidak seluruhnya jelek. Apa salahnya mengekspresikan perasaan yang kesannya negatif? Ya, musik ini menurutku musik yang membuat pendengarnya merasa kuat dari rasa sedih, sakit, terkucilkan, down dan lain-lain. Aliran suaranya yang terkesan strong membuat pendengarnya merasa strong juga. Here’s a story: ada seseorang yang putus cinta karena diselingkuhi pacarnya. Di satu sisi dia bisa saja mendengarkan lagu-lagu sedih yang bertema “kenapa kamu tega seperti ini?”. Di sisi lain dia bisa menikmati kemarahannya melalui musik bernada “anj*ng gue ketipu! awas loe besok! awas!”. Solusi pertama kerap membuat perasaan menjadi down, solusi satunya biasanya menciptakan kemarahan pada perasaan yang kecewa. Ya, kalo kita dikecewain wajar saja kita marah bukannya merasa “apa salahkuuu?” Make sense kan?! Metal makes us strong! Apalagi buat cowok. Cowok harusnya bermental baja bukan tempe.

Lanjut ke permainan musiknya. “Apaan tuh pemain gitar rhythm-nya cuma palm-muting. Gak ada skillnya!” Hahahaa. Namanya juga “main” musik. Main=senang-senang. Kenapa harus repot-repot dan berpayah-payah pamer skill? Bermain musik seharusnya orientasinya “have fun/enjoy” bukannya berpikir ribet. Inilah bedanya antara penonton konser metal dan orkestra. Penikmat lagu keras pasti asik jingkrak-jingkrak, teriak-teriak, ber-moshing dalam circle pit. Mereka terbakar bersama alunan musik. Penonton orkestra cenderung menikmati nilai seni dari nada-nada musik yang lembut. Got it? Lagi pula ada juga kok musik keras yang skill nya canggih. Lihat saja om Synyster Gates atau Nick Hipa atau Mick Thomson. Mengingat 3 gitaris ini saya jadi wondering atraktifnya permainan drum Jordan Mancino, Joey Jordison dan almarhum James Sullivan. Coba deh sekali-sekali dengar atau nonton mereka di Youtube. Tuh, sakti kan?!

Sungguh sayang sekali musik-musik ini susah mendapat sorotan publik, terlebih lagi di Indonesia. Musik-musik cadas sementara ini masih bernaung di festival musik cadas lokal. Yang mampu tembus ke publik biasanya lagu rock dan punk. Itu pun sudah dimodifikasi dengan tema cinta-cintaan. Seharusnya musik keras juga ditampilkan agar mental pria-pria bangsa ini lebih kuat lebih macho lebih garang lebih cowok! 

Maju terus musik cadas!

Continue reading →